Rumah Adat Yogyakarta

Yogyakarta menjadi salah satu kota yang masih memiliki budaya yang sangat kental. Selain pakaian dan alat musiknya yang sangat khas, ternyata rumah adat Yogyakarta juga masih ada hingga saat ini.

Banyaknya budaya tradisional yang masih terus dikembangkan dan pesona alam Yogyakarta yang begitu memukau, akhirnya makin banyak wisatawan yang melancong ke Kota Yogyakarta.

Anda yang berlibur di Kota Yogyakarta, jangan sampai tidak mencoba makanan yang ada di dalamnya. Banyak juga makanan yang terkenal seperti contohnya saja Gudeg yang patut untuk Anda cicipi bersama keluarga ketika berlibur.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang rumah adat Yogyakarta, Anda juga harus mengetahui ada beberapa fenomena yang dihadirkan oleh kota yang indah ini.

Contohnya saja seperti banyaknya angkringan yang menanti untuk Anda nikmati lebih jauh, dengan aneka makanan ringan khas dari Jawa dan tentu saja memiliki harga yang bersahabat. Anda harus tahu bahwa nuansa khas Yogyakarta dengan keramahannya akan menjadi pengalaman yang sulit Anda lupakan.

Yogyakarta juga dapat menjadi tempat yang sangat menyenangkan dengan segala seni jalanan yang ditampilkan untuk Anda. Berbagai arsitektur yang indah, musik-musik jalanan yang akan menemani perjalanan Anda, akan membuat liburan dan kunjungan Anda menjadi lebih berwarna.

Anda tidak perlu khawatir akan merasa bosan, karena nyatanya banyak tempat baru yang dapat Anda eksplore lebih jauh.

Ciri-Ciri Rumah Adat Yogyakarta

rumah adat yogyakarta

Rumah adat Yogyakarta memiliki nama Bangsal Kencono. Sekilas, rumah ini memang mirip dengan rumah adat daerah Jawa Tengah yang sering disebut dengan Joglo.Namun ternyata ada beberapa perbedaan terhadap desain dari rumah adat ini yang begitu khas dan telah menjadi ciri-ciri yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Rumah adat ini biasanya disesuaikan dengan fungsi ruangan yang ada di istana, inilah mengapa kebanyakan rumah adat dari daerah Yogyakarta memiliki ukuran lahan yang cukup luas atau besar

Material dari rumah adat Yogyakarta yaitu sirap atau genting tanah untuk bagian atapnya, serta penuh dengan kayu yang memiliki kualitas tinggi.Biasanya warna yang dihasilkan dari rumah adat ini juga sangat khas, tiang dicat dengan warna hitam atau hijau gelap. Sedangkan bagian umpak batu memiliki warna hitam dengan corak keemasan. Lantai yang dipakai merupakan batu granit yang terbuat dari bahan marmer, dan tentunya lebih tinggi dibandingkan permukaan tanah di sekitar daerah tersebut. Setidaknya terdapat tiga bagian utama yang dapat Anda ketahui dari Bangsal Kencono, yaitu:

  • Bagian depan

Bagian depan dari rumah adat Yogyakarta memiliki beberapa ruangan yaitu Gladhag Pangurakan, Masjid Gedhe Kasultanan, dan Alun-alun Lor.

Gladhag Pangurakan yaitu gerbang utama yang difungsikan sebagai gerbang masuk dari istana.Biasanya gerbang ini berada di utara, dengan 2 gerbang di bagian luar dan dalam.Apabila rumah adat jaman dahulu, gerbang ini memiliki pengawal lengkap untuk menjaga keluarga yang ada di dalam rumah.

Masjid Gedhe Kasultanan tentu saja menjadi tempat ibadah yang biasanya diletakkan dekat dengan pintu utama untuk memudahkan penduduk melakukan Jama’ah ketika waktu sholat telah tiba. Masjid ini berada di bagian Utara bangunan utama.

Alun-alun Lor juga pasti ada di beberapa rumah adat Yogyakarta yang asli dan masih dijaga oleh penghuninya. Apabila melihat sejarah, alun-alun Lor ini biasa digunakan untuk upacara grebeg, sekaten, rampogan macan, dan lain sebagainya. Saat ini alun-alun Lor tetap digunakan menjadi acara yang lebih modern seperti konser, pertandingan bola, hingga rapat akbar.

  • Bagian inti

Bagian inti dari rumah adat Kota Yogyakarta memiliki ruangan yang cukup banyak mulai dari Bangsal Pagelaran, Siti Hinggil Ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, Siti Hingil Kidul, Kedhaton, dan lain sebagainya.

Bangsal Pagelaran identik sebagai tempat yang digunakan untuk para penggawa kerajaan bertemu dengan Sultan di beberapa acara atau upacara resmi. Ruangan ini masih ada hingga saat ini, namun digunakan sebagai tour wisata, religi, dan lain sebagainya.

Siti Hinggil Ler tidak jauh berbeda dengan Bangsal Pagelaran karena tempat ini juga sangat sering digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan upacara resmi dari pihak kesultanan.

Kamandhungan Ler adalah bangunan yang juga ada di sebelah utara. Biasanya bangunan ini memiliki fungsi sama seperti pengadilan, namun identik dengan perkara hukum dengan hukuman yang berat seperti contohnya hukuman mati pada zaman dahulu. Namun sekarang ini, Kamandhungan Ler hanya digunakan sebagai pelaksanaan adat seperti Garebeg dan Sekaten.

Sri Manganti merupakan ruangan yang ada di sebelah Selatan dan biasa digunakan untuk menjamu para tamu kerajaan dengan suguhan alat-alat musik tradisional.

Kedhaton adalah inti dari seluruh rumah adat Yogyakarta, yang memiliki fungsi sebagai tempat tinggal Sultan, istri, dan tentunya putri dari Sultan.Biasanya tempat ini juga menjadi Kesatriyan bagi para putra Sultan.

Kemagangan sendiri merupakan tempat untuk tempat berlatih, apel para abdi-Dalem, dan tentunya tempat penerimaan pada abdi-Dalem yang akan ditugaskan.

Selanjutnya adalah Siti Hinggil Kidul yang jaman dahulu sering dijadikan tempat untuk Sultan menyaksikan pertandingan adu manusia dengan rampogan atau macan.Saat ini, Siti Hinggil masih terus digunakan untuk pertunjukan adat.

  • Bagian belakang

Bagian belakang dari rumah adat Yogyakarta adalah alun-alun kidul dan Plengkung Nirbaya. Alun-alun biasanya ada di sebelah Selatan Keraton, sedangkan Plengkung Nirbaya digunakan sebagai poros utama untuk menuju makam Sultan yang telah meninggal dunia.

Jenis Rumah Adat Yogyakarta Yang Populer

Sebenarnya selain rumah adat Yogyakarta utama yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa rumah adat lain yang masih sangat tradisional dan tentu saja masih mudah Anda temukan jika berlibur di Jogja. Beberapa rumah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Rumah Joglo

rumah joglo yogyakarta
rumah joglo yogyakarta

Rumah ini sering disebut sebagai rumah Jawa yang memiliki arsitektur paling sempurna, karena sangat kuat dan bentuknya besar. Rumah ini memiliki empat tiang pokok yang digunakan sebagai penguat, dan seluruh bagian rumahnya menggunakan kayu berkualitas.

  1. Rumah Limasan

rumah limasan yogyakarta
rumah limasan yogyakarta

Rumah adat Jawa atau Yogyakarta ini merupakan saduran dari kata limolasan yang artinya limabelasan. Rumah ini memiliki banyak jenis seperti Limasan Apitan, Limasan Klabang Nyander, Limasan Cere Gancet, Limasan Pacul Gowang, dan lain sebagainya yang disesuaikan dengan ruangan yang ada di dalam rumah adat ini.

  1. Rumah Kampung

Rumah ini mungkin sering Anda lihat di televisi atau buku sejarah. Rumah dengan tiang berjumlah 4, 6, ataupun 8 ini menggunakan wuwung sebagai atapnya. Rumah ini memiliki konsep sederhana, namun tetap menggunakan kayu berkualitas agar tetap awet.

  1. Rumah Panggang-Pe

Rumah ini bisa dibilang merupakan rumah yang paling sederhana dibandingkan rumah adat yang lain. Konon, rumah inilah rumah pertama kali yang digunakan oleh penduduk untuk berlindungan dari panas terik dan hujan. Rumah adat Yogyakarta ini sangat sederhana dan hanya memiliki satu ruangan saja.

Itulah penjelasan tentang rumah adat yogyakarta, mulai dari rumah khas yogya yang bernama Bangsal Kencono hingga rumah joglo, rumah limasan, rumah kampung dan rumah panggang-ee di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Artikel Terkait:

Leave a Comment